Mahasiswa adalah seorang pemuda yang di dengung-dengungkan menjadi Agent of Change dan juga penyambung lidah masyarakat ke pemerintah. Tapi apakah mahasiswa jaman now sudah melakukan itu? Kalaupun sudah, hanya sebagian mahasiswa yang memberanikan diri untuk menyuarakan kegelisahan masyarakat.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karna sebagian mahasiswa di Perguruan Tinggi lebih banyak mengurusi diri mereka sendiri dan juga organisasi internalnya tanpa melihat perkembangan yang ada di masyarakat secara langsung. Sebagaimana yang telah secara jelas tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi di poin ke 3, dimana kita harus melakukan pengabdian kepada masyarakat.
Merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi
Kemudian, bagaimana kita harus menyikapi persoalan ini? Saya akan mencoba untuk beropini kenapa mahasiswa jaman now cenderung lebih hebat ketika mengurusi organisasinya ketimbang menjadi Agent of Change yg selama ini melekat didalam tubuh mahasiswa.
Sebenarnya, banyak cara agar seorang mahasiswa dapat menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Salah satunya dengan ikut atau bergabung di organisasi mahasiswa. Seperti Himpunan Mahasiswa (HIMA), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan kelembagaan mahasiswa lainnya.
Setelah mengikuti organisasi mahasiswa, kita diharapkan bisa menjadi pelopor pemuda terdidik lainnya untuk tidak melupakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hal tersebut karena dengan seorang mahasiswa berorganisasi, kita cenderung punya kesempatan lebih besar untuk menerapkan fungsi kita sebagai mahasiswa.
Mahasiswa Tak Memisahkan Diri dari Masyarakat
Seorang organisatoris, dapat melakukan kegiatan dan pengabdian yang bermanfaat untuk masyarakat. Seperti seminar, bhakti sosial, ataupun terjun langsung membantu masyarakat. Namun, jika kita tidak memiliki wadah seperti Organisasi Mahasiswa, kemungkinan sangat kecil untuk merealisasikan cita-cita tersebut..
Mari kita mencoba untuk berpikir untuk menjadi seorang mahasiswa yang mampu mengamalkan poin-poin dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Yakni berbicara tentang Pendidikan, Penelitian, dan Pengambian Terhadap Masyarakat, yang memang memiliki keberpihakan terhadap rakyat.
Mahasiswa Tak Memisahkan Diri dari Masyarakat
Seperti yang pernah dikatakan oleh salah satu tokoh pejuang, Tan Malaka. Ia menilai “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.
Sudah jelas pendidikan yang digagas oleh Tan Malaka memang semata-mata agar seorang mahasiswa ataupun tak boleh memisahkan diri rakyat kecil dan juga harus membawa perubahan yang baik untuk rakyat. Sebagaimana seorang mahasiswa yang dikatakan sebagai Agen of Change.
Namun, jika ingin melakukan perubahan terhadap bangsa, sebaiknya sebagai seorang mahasiswa haruslah memiliki ilmu pengetahuan dan kapasitas yang cukup. Bukan hanya bermodalkan keberanian saja tanpa dibekali ilmu, karena yang dikhawatirkan hanya akan menjadi orang yang nekat. (Alfian Mahasiswa Tehnik Informatika 2015)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar